Nilai tukar rupiah di pasar spot dibuka melemah pada perdagangan Selasa (8/9/2026). Mata uang garuda sentuh Rp 17.645 per dollar AS. Berdasarkan data Bloomberg, kurs rupiah melemah 5 poin atau 0,03 persen dibandingkan penutupan perdagangan hari sebelumnya yang berada di level Rp 17.640 per dollar AS.
Adapun, indeks dollar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, pada pukul 09.00 WIB terpantau melemah cukup dalam atau sebesar 0,39 persen ke posisi 98,789. Kendati, rupiah masih bergerak terbatas dan belum mampu memanfaatkan dorongan positif dari pelemahan mata uang Paman Sam.
Pada 18 Agustus 2026, rupiah menguat 0,78 persen secara point-to-point (ptp) menjadi Rp 17.855 per dollar AS. Mereka menilai masuknya kembali investor asing setelah terjadinya repricing pada SBN dan SRBI memperkuat permintaan terhadap aset-aset berdenominasi rupiah. Kondisi ini ikut meredakan tekanan terhadap nilai tukar sekaligus mengurangi kebutuhan Bank Indonesia (BI) untuk menggunakan cadangan devisa dalam menjaga stabilitas rupiah.
Meskipun cadangan devisa meningkat, Mirae Asset Sekuritas menilai perbaikan tersebut belum diikuti penguatan keseimbangan eksternal secara fundamental.
Defisit transaksi berjalan Indonesia melebar menjadi 12,5 miliar dollar AS atau 3,3 persen terhadap PDB pada kuartal II-2026. Pada saat yang sama, surplus perdagangan Indonesia periode Januari-Juli 2026 menyusut tajam menjadi 3,7 miliar dollar AS.
Karena itu, arus masuk portofolio dan aliran keuangan lainnya semakin penting dalam menjaga stabilitas eksternal Indonesia. Mirae Asset Sekuritas memandang bahwa arus modal asing yang masuk belakangan ini memang memberikan dampak positif. Namun, aliran dana itu lebih sensitif terhadap perubahan kondisi risiko global.
“Hal ini membuat kualitas akumulasi cadangan devisa masih lebih rentan mengalami pembalikan dibandingkan jika didukung pemulihan transaksi berjalan yang berkelanjutan,” ujar Mirae Asset Sekuritas.
Ke depan, Mirae Asset Sekuritas memperkirakan cadangan devisa Indonesia tetap berada pada level yang memadai dengan kecenderungan stabil hingga meningkat dalam jangka pendek. Prospek tersebut didukung oleh imbal hasil SBN dan SRBI yang relatif menarik serta peluang berlanjutnya arus masuk investor asing.
Artikel ini disusun untuk membantu pembaca memahami konteks sebuah isu. Bila menemukan kekeliruan, sampaikan kepada redaksi melalui kanal kontak.
Komentar
Belum ada komentar yang tayang. Jadilah yang pertama.