Polda Banten memastikan identitas jenazah pria yang ditemukan di Pulau Enggano, Bengkulu, sebagai Surakman atau Sukarman (60), anak buah kapal KM Arupadatu I yang hilang bersama rombongan jurnalis di Selat Sunda.

Kepastian itu diperoleh setelah Tim Disaster Victim Identification (DVI) Pusdokkes Polri mencocokkan DNA jenazah dengan data antemortem keluarga. Jenazah ditemukan pada Sabtu (12/9/2026), lima hari setelah kapal dilaporkan hilang kontak.

Peta jarak Pulau Enggano dengan titik terakhir kapal hilang
Peta jarak Pulau Enggano dengan titik terakhir kapal hilang Sumber: detikcom / dok. Google Earth / Diolah

DNA Mengakhiri Penantian Identitas Jasad di Enggano

Kapolda Banten Irjen Hengki menjelaskan, jenazah yang semula berstatus Mr X ditemukan di perairan Sawang Bengkok, Desa Kahyapu, Kecamatan Enggano, Kabupaten Bengkulu Utara. Jenazah kemudian dibawa ke RS Bhayangkara Polda Bengkulu untuk proses identifikasi.

Pemeriksaan DVI menggunakan data antemortem dari keluarga delapan orang yang berada di KM Arupadatu I. Hasil pencocokan genetik menunjukkan jenazah identik dengan Surakman atau Sukarman, yang tercatat sebagai ABK kapal.

Jenazah dijadwalkan diterbangkan dari Bengkulu menuju Bandara Soekarno-Hatta pada Kamis (24/9/2026). Dari sana, jenazah akan dikembalikan kepada keluarga di Pandeglang, Banten.

Ditemukan Ratusan Kilometer dari Titik Terakhir Kapal Terdeteksi

Sebelum hilang kontak, rombongan diketahui sempat terdeteksi di sekitar Pulau Sebesi, Lampung Selatan. Berdasarkan pengukuran garis lurus menggunakan Google Earth yang dilaporkan detikNews, jarak Pulau Sebesi ke Pulau Enggano sekitar 345 kilometer.

KM Arupadatu I membawa delapan orang saat bertolak dari Carita pada 7 September 2026, terdiri atas lima jurnalis, kapten kapal, seorang ABK, dan seorang pemandu. Setelah Surakman teridentifikasi, tujuh orang lainnya masih belum ditemukan.

Operasi SAR gabungan sebelumnya dihentikan pada 17 September setelah berlangsung selama 10 hari. Hingga naskah ini disusun, belum ada pengumuman resmi mengenai pembukaan kembali operasi SAR setelah hasil identifikasi terbaru tersebut.

Penulis : Sheila Hermsen
Editor : Ranu Kumbolo

Bagikan artikel ini
Catatan redaksi

Artikel ini disusun untuk membantu pembaca memahami konteks sebuah isu. Bila menemukan kekeliruan, sampaikan kepada redaksi melalui kanal kontak.